Rabu, 24 Juni 2009

Bagi pengguna

Peningkatan kebutuhan masyarakat dalam berbagai bidang, khususnya di bidang telekomunikasi, informasi, dan hiburan serta dunia bisnis dirasakan semakin meningkat akibat saling keterkaitan dan ketergantungan umat manusia di dunia dalam era globalisasi saat ini. Salah satu kebutuhan yang paling mencolok peningkatannya adalah kebutuhan akan informasi.
Dalam era globalisasi ini perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat diikuti oleh teknologi informasi. Melalui teknologi informasi seseorang dapat memperoleh informasi dengan cepat dan mudah. Salah satu produk teknologi yang dapat digunakan sebagai sarana temu kembali informasi adalah Internet.
Internet merupakan sebuah jaringan komputer yang sangat besar, yang terbentuk oleh jaringan-jaringan kecil di seluruh dunia yang saling terhubung satu sama lainnya. Internet berkembang pesat sejak jaringan ini pertama kali sukses dikembangkan dan diujicobakan pada tahun 1969 oleh U.S. Departemen of defen dalam proyek ARPANET (Advanced Research Project Network) (Ramadhani, 2003:3-4).
Teknologi informasi menurut Sulistyo-Basuki (1991:87) adalah teknologi yang memanfaatkan informasi, menyimpan, menghasilkan, mengolah dan menyebarkan informasi. Disamping aspek teknologi, informasi juga memerlukan suatu lembaga yang berkompeten dalam mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan serta menemukannya kembali. Dalam hal ini perpustakaan merupakan lembaga yang tepat untuk melaksanakan tugas tersebut. Karena pada hakekatnya perpustakaan merupakan suatu lembaga penyedia sumber informasi (Sulistyo-Basuki, 1991: 6-7 dan Qalyubi, dkk, 2003:15-17). Oleh karena itu, eksistensi dan pentingnya peranan perpustakaan umum dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna yang beraneka ragam akan semakin diakui oleh masyarakat, terutama masyarakat intelektual.
Pencarian informasi dari hari ke hari terus mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pesatnya laju pembangunan. Pencarian tersebut akan semakin meningkat jika dibarengi dengan peningkatan aktivitas dan pengetahuan serta kesadaran dari masyarakat untuk mengaktualisasikan dirinya. Pada tahap inilah informasi mendapatkan titik yang sangat penting meminjam istilah dari Gramsci yaitu terciptanya “masyarakat yang berintelektual organik” (Simon, 2001:xix).

Internet dan masyarakat sipil

Penelitian ini mendapatkan konteksnya karena dua hal. Pertama, keterlibatan dan pengaruh LSM, organisasi atau jaringan masyarakat sipil dalam penentuan kebijakan dan pengambilan keputusan publik makin hari makin meningkat. Kedua, perkembangan teknologi informasi dan pemanfaatannya juga makin pesat dan meluas. Maka, sementara di satu sisi keduanya dipandang sebagai salah satu faktor penggerak perubahan sosial, di sisi lain ternyata ada jarak cukup jauh yang memisahkan keduanya. Studi-studi selama ini menunjukkan bahwa nampaknya teknologi informasi belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kerja-kerja LSM, organisasi dan jaringan masyarakat sipil - apalagi di Indonesia.

Karena itu, selain mencoba mengumpulkan data dan mengidentifikasi sejauh mana LSM, organisasi dan jaringan masyarakat sipil di Indonesia telah
menggunakan teknologi informasi, penelitian ini juga menggali bidang-bidang apa saja, saat ini dan di masa depan, dimana teknologi informasi bisa dimanfaatkan secara kreatif, cerdik dan strategis untuk membawa agenda perubahan dan perbaikan sosial di Indonesia. Jika hal ini tercapai, mungkin inilah sumbangan paling bermakna dari penelitian ini bagi perkembangan sektor masyarakat sipil di Indonesia dan bagi studi sosiologi mengenai teknologi informasi. Di sinilah arti penting partisipasi Anda dalam survey ini.

Sejauh ini, saya mencoba mengundang seluruh LSM/organisasi/jaringan yang terdaftar dalam beberapa direktori LSM/Ornop di Indonesia, yaitu yang disusun oleh CRS, SMERU, LP3ES dan TIFA. Sayangnya, tidak semua yang terdaftar di keempat direktori tersebut memiliki alamat email. Karena itu, sebagian (besar) survey ini juga dilakukan melalui kuesioner tercetak via pos dan hasilnya disatukan/diintegrasikan dengan survey online atau melalui email ini. Karena itu, sekali lagi, mohon bantuan Anda sekalian untuk menyebarluaskan survey ini agar tingkat partisipasinya makin luas.

Internet untuk masyarakat petani

Di Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, pemanfaatan internet dilakukan dengan cara berbeda. Di Telecenter e-Pabelan, lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat milik Pondok Pesantren Pabelan, pengguna yang mayoritas adalah petani memanfaatkan internet guna mengeruk informasi tentang pertanian. "Soal dosis pupuk yang tepat serta benih padi unggul, semuanya kami ajarkan agar mereka bisa mendapatkan informasinya sendiri melalui internet," ujar Hardi, fasilitator Telecenter e-Pabelan.

Semula program pengenalan internet ini mendapat dukungan dana hibah dari Program Pembangunan PBB (UNDP). Namun, sejak tahun 2006 hingga sekarang program ini menggunakan dana mandiri, hasil dari uang penyewaan fasilitas internet.

Telecenter e-Pabelan mengenakan biaya akses Rp 2.000 per jam untuk kelompok petani dan sewa penggunaan komputer untuk keperluan lain Rp 1.000 per jam.

Hardi mengakui, pada awal pendampingan pengenalan internet di masyarakat pedesaan memang sangat sulit. "Jangankan mengenal, untuk memegang keyboard saja tangan mereka gemetaran," katanya.

Kini sudah ada 10 kelompok petani yang aktif menggunakan internet, setiap kelompok beranggotakan 15 hingga 25 orang. "Melalui internet, saya sekarang tahu bagaimana caranya melakukan sistem pertanian organik" tutur Muslimah, seorang petani Desa Pabelan.

Kesadaran petani itu pulalah yang mendorong tumbuhnya warung internet (warnet) di pedesaan. Ezra (18) mengaku tak perlu lagi jauh-jauh ke Kota Yogyakarta untuk dapat mengakses internet. Di Desa Tegal Piyungan, Kecamatan Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta, tempat Ezra tinggal, kini sudah ada warnet.

Terkait makin meluasnya internet ke pedesaan, Direktur Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB Armein ZR Langi mengatakan, setidaknya ada empat hal yang harus disiapkan untuk mewujudkan internet masuk desa, yaitu infrastruktur jaringannya, aplikasi, konsep pengelolaannya, dan kesiapan penggunanya.

Sementara itu, pakar internet Onno Purbo berpendapat, yang paling siap menerima sosialisasi penggunaan internet masuk desa adalah anak-anak sekolah. (ONI/EKI/DYA/PRA/WKM/THT)

Internet Merambah Masyarakat Pedesaan

Internet kini bukan lagi monopoli masyarakat di perkotaan, tetapi sudah merambah warga pedesaan. Para petani di banyak desa sudah merasakan manfaat internet untuk memperoleh informasi tambahan mengenai persoalan pertanian, pasar, harga komoditas, dan sebagainya.

Sudah setahun ini Umar Husein, petani teh rosela asal Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, bersama kelompok tani teh binaannya di Kota Pagar Alam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan Kota Palembang, Sumatera Selatan, belajar menggunakan internet. Bagi mereka, internet ternyata sangat berguna untuk mencari informasi tambahan mengenai sistem pengolahan dan pemasaran teh rosela.

"Berkat internet, kini saya bisa mendapat pengetahuan tentang berbagai hal, seperti cara pengepakan produk teh, penyajian informasi gizi dari teh rosela, sampai bagaimana strategi menjual teh ini kepada konsumen," ujar Umar, Sabtu (20/10).

Internet sangat mendukung usaha Umar karena memungkinkan ia memperoleh informasi apa pun serta berinteraksi dengan calon pembeli, dengan biaya komunikasi yang relatif murah.

Meski mengaku sangat kikuk pada awalnya, Umar mengatakan belajar internet ternyata tidak sesulit seperti yang dibayangkan. "Semua informasi tersedia," ucapnya.

Untuk mendukung usaha dan pengembangan teh rosela di Indonesia, Umar lalu menyebarluaskan manfaat dan cara penggunaan internet kepada para petani teh rosela di OKI, Pagar Alam, dan Palembang.


Free Blogspot Templates by Isnaini Dot Com and Bridal Dresses. Powered by Blogger